Apakah Anda Seorang :
|
Berikut ini adalah Fakta Mengenai Effectiveness Internal Control Complying With Sarbanes Oxley ACT & SAS 99 :
| SAS (Statement on Auditing Standards) 99 adalah regulasi yang dikeluarkan oleh American Institute of Certified Public Accountant (AICPA), kalo di sini semacam Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAS 99 dikeluarkan terkait skandal akuntansi di perusahaan besar Amerika yaitu Enron, WorldCom, Adelphia, dan Tyco SAS 99 memberikan panduan untuk auditor mengenai bagaimana cara mengidentifikasi/mengevaluasi resiko fraud dalam laporan keuangan. Auditor juga harus memperhatikan area yang beresiko terkena fraud seperti pengakuan pendapatan yang tidak tepat ‘improper revenue recognition’ dan adanya kontrol yang tidak dijalankan oleh manajemen ‘management override of controls’. Sarbanes-Oxley (SOX) adalah aturan perundangan yang berlaku di Amerika Serikat yang mengharuskan setiap perusahaan publik untuk membuat laporan keuangan yang sangat mendetail, termasuk memberikan analisa mengenai kekurangan dan risiko yang dihadapi perusahaan. Meskipun laporan keuangan perusahaan-perusahaan tersebut sudah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik yang punya reputasi baik, tetapi penyalahgunaan peran auditor masih terjadi. Saat itu, investor publik di Amerika Serikat justru bertanya-tanya mengenai kemampuan dan keandalan setiap akuntan publik yang terlibat. Misalnya pada kasus Enron, akuntan publik yang ditugaskan untuk mengaudit kinerja perusahaan adalah Arthur Andersen, kantor akuntan publik yang telah berdiri selama lebih dari satu abad. Arthur Andersen bahkan masuk ke dalam jajaran 5 besar kantor akuntan terbesar di dunia, atau yang lebih dikenal dengan istilah “Big Five”. Namun setelah skandal Enron terungkap ke publik, perusahaan akuntan ini kolaps, yang menyebabkan istilah Big Five berganti menjadi Big Four. Enron didakwa telah melakukan akrobat metode akuntansi dengan mencatatkan pendapatan jauh lebih besar dari yang semestinya, di bawah pengawasan akuntan publik yang terlibat di dalamnya. Terungkapnya skandal ini membuat harga saham Enron terjun bebas akibat “dihukum oleh pasar” dari level tertingginya di level US$ 90.75 pada Agustus 2000, jatuh ke level US$ 0.12 di Januari 2002. Kongres Amerika Serikat paham betul bahwa hilangnya kepercayaan publik terhadap pasar modal akan memberikan dampak buruk bagi arus modal secara signifikan. Profesi akuntan publik perlu diawasi secara ketat karena perannya sangat mempengaruhi keputusan investor. Sehingga regulasi yang diajukan oleh Senator Paul Sarbanes dan anggota legislatif Michael Oxley langsung diresmikan pada pertengahan 2002 untuk mengantisipasi potensi kolaps yang berlanjut dan menghindari hal serupa kembali terjadi. SOX diresmikan di Amerika Serikat pada 30 Juli 2002 di masa kepemimpinan Presiden George W. Bush. Rancangan aturan ini berawal dari banyaknya persoalan dan skandal yang melibatkan profesi akuntan publik di Amerika Serikat. Termasuk di antaranya adalah skandal Enron, Worldcom, dan Tyco Internasional yang sempat menghebohkan sektor pasar modal Amerika Serikat di awal tahun 2000-an. Di mana ketiga perusahaan tersebut terbukti telah melakukan manipulasi laporan keuangan yang menyesatkan investor publik. Meskipun kondisi pasar modal Indonesia belum sebaik di Amerika Serikat, tapi prinsip-prinsip yang menjadi dasar SOX sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia. Karena setiap investor publik harus dilindungi dari penyalahgunaan peran akuntan publik. Undang-undang ini tujuannya adalah untuk memperbaiki transparansi perusahaan, perbaikan secara terus menerus terhadap kontrol internal perusahaan, serta menekankan pentingnya independensi auditor eksternal dalam menjalankan tugasnya. Karena aturan ini menjunjung tinggi transparansi dan pengawasan yang ketat terhadap auditor, maka biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk merilis laporan keuangan atau keterbukaan informasi menjadi lebih mahal secara biaya dan memakan lebih banyak waktu. Di Amerika Serikat, bahkan banyak perusahaan yang keberatan dan memutuskan untuk delisting atau keluar dari bursa karena adanya regulasi ini. Banyak juga perusahaan kecil yang memutuskan untuk delisting karena tidak sanggup dengan biaya laporan keuangan yang mahal. Banyak juga perusahaan yang nilai credit rating-nya harus turun karena aturan ini. Melalui aturan yang dijalankan secara ketat ini, perusahaan dituntut untuk punya komitmen sebagai perusahaan publik untuk transparan pada laporan keuangan dan informasi perubahan neraca yang sering digunakan untuk menyembunyikan tindakan kecurangan. Sehingga perusahaan publik yang tidak bersedia untuk berkomitmen bisa dipersilahkan untuk keluar dari bursa. Hal ini agar setiap investor publik dapat dilindungi dari praktik yang tidak kelihatan di permukaan ini. Sudah sebaiknya badan-badan yang bertanggung jawab untuk membentuk kebijakan mulai merancang undang-undang serupa yang disesuaikan prinsipnya dengan kondisi di Indonesia. Negara harus punya iklim pasar modal yang sehat, pasar modal yang bisa melindungi investor publik dari risiko kecurangan, sebab pasar modal yang sehat akan menghasilkan penguatan dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Karena, apabila hanya menggunakan aturan yang ada sekarang, setiap perusahaan publik bisa saja melakukan rekayasa informasi keuangan, kemudian menerima sanksi administratif, dan pada akhirnya saham perusahaan yang curang itu kembali dapat diperdagangkan seperti biasa. Seolah tidak ada masalah yang terjadi. Pada akhirnya, investor publik lah yang dirugikan. Internal control pada saat ini menghadapi tantangan dan tuntutan yang besar untuk dapat secara efektif dan efisien melakukan fungsinya. Fungsi control tersebut tidak hanya melekat pada proses bisnis tetapi juga pada financial reporting atau yang lebih dikenal dengan Internal Control Over Financial Reporting (ICOFR). Salah satu ajuan adalah Sarbanes – Oxley. |
Apa manfaat mengikuti pelatihan ini ?
|
Berita Baiknya adalah :
Kabar baiknya kami Menyediakan Training untuk Effectiveness internal control complying with sarbanes oxley act & SAS 99 berupa :
|
Siapa Yang Akan Menjadi Pembicara Pada Pelatihan ini ?
Instruktur yang mengajar pelatihan Training Effectiveness Internal Control Complying With Sarbanes Oxley ACT & SAS 99 ini adalah instruktur yang berkompeten di bidang Effectiveness Internal Control Complying With Sarbanes Oxley ACT & SAS 99 baik dari kalangan akademisi maupun praktisi.
Materi Pelatihan Apa Yang Akan Didapatkan?
|
Metode Pelatihan
Presentasi
Pelatihan dengan metode Presentation untuk matrikulasi dan penyampaian materi
Diskusi
Komunikasi interaktif antara trainer dan peserta didalam kelas
Studi Kasus
Membahas contoh permasalahan yang ada dan berbagi pengalaman
Praktek
Praktek Lapangan untuk peserta belajar dan berlatih secara mandiri
Selain Materi Pelatihan Benefit Apa Lagi Yang Akan Didapatkan
Sertifikat
Lunch
Coffee Break
USB Flasdisk
Modul
Souvenir
Transport
Jogja Dinner
Training Kit
Affrodable Investment
Lokasi Pelatihan





Berapa Investasi Jika Saya Upgrade Skill?
Investasi pelatihan selama dua hari tersebut menyesuaikan dengan jumlah peserta (on call). *Please feel to contact us.
Apabila perusahaan membutuhkan paket lain IN HOUSE TRAINING, anggaran investasi pelatihan dapat menyesuaikan dengan anggaran perusahaan
JADWAL PELATIHAN TAHUN 2023
Januari
18-19 / 26-27
Februari
15-16 / 23-24
Maret
8-9 / 23-24
April
18-19 / 20-21
Mei
19-20 / 24-25
Juni
15-16 / 22-23
Juli
18-19 / 26-27
Agustus
11-12 / 24-25
September
14-15 / 21-22
Oktober
12-13 / 26-27
November
16-17 / 26-27
Desember
7-8 / 22-23









